Rise to the challenge?

Search on this Page

Press Release

Building the Green Workforce to Accelerate Indonesia’s Net-Zero Transition

Jakarta, 1 Agustus 2026 – Pejabat pemerintah, pimpinan industri, praktisi, dan para profesional muda menyerukan percepatan pengembangan talenta hijau (green talent) sebagai fondasi transisi Indonesia menuju ekonomi rendah karbon. Seruan tersebut disampaikan dalam acara sampingan bertajuk “Green Jobs and Skills for Indonesia’s Net-Zero Transition” yang diselenggarakan dalam rangka Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2026 di Balai Kartini, Jakarta.

Indonesia berpeluang menciptakan jutaan lapangan kerja baru seiring percepatan transisi tersebut. BloombergNEF memproyeksikan bahwa jalur menuju emisi nol bersih (net-zero) dapat membuka investasi senilai US$3,8 triliun hingga tahun 2050 serta menciptakan sekitar 1,3 juta lapangan kerja langsung di sektor energi terbarukan.

Namun, ketersediaan tenaga kerja terampil belum mampu mengimbangi kebutuhan tersebut. LinkedIn Green Skills Report 2025 menunjukkan bahwa individu yang memiliki keterampilan hijau direkrut dengan tingkat 46,6% lebih tinggi dibandingkan rata-rata lintas sektor, mencerminkan besarnya kesenjangan antara permintaan industri dan ketersediaan talenta. Sementara itu, studi Koaksi Indonesia tahun 2026 menggambarkan kondisi tersebut sebagai tenaga kerja yang “siap tetapi sulit direkrut”: para lulusan memang memiliki latar belakang pendidikan yang relevan, namun masih belum memenuhi kebutuhan industri dari sisi keterampilan teknis, pengalaman praktik, maupun sertifikasi.

Dr. Nur Hygiawati Rahayu, S.T., M.Sc., Direktur Ketenagakerjaan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), mengatakan bahwa pemerintah telah menjadikan pengembangan pekerjaan hijau sebagai salah satu prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

“Kami sedang menyiapkan sebuah peta jalan yang bekerja dari dua sisi pasar tenaga kerja, yaitu memperkuat sisi pasokan melalui penyelarasan standar kompetensi, pendidikan, dan pelatihan, sekaligus mendorong sisi permintaan melalui kebijakan yang menciptakan lapangan kerja hijau,” ujarnya. “Pemerintah tidak dapat melakukannya sendiri. Kolaborasi dengan dunia usaha, institusi pendidikan, dan para mitra pembangunan merupakan kunci untuk menghasilkan talenta yang dibutuhkan dalam transisi hijau.”

Dalam sesi panel, Haryo Ajie Dewanto, Pendiri sekaligus Direktur Technical and Business Development Dassa Corp, menjelaskan bahwa berbagai proyek keberlanjutan perusahaan dibangun di atas tiga pilar utama, yaitu iklim, masyarakat, dan keanekaragaman hayati. Setiap proyek dirancang tidak hanya untuk mendukung aksi iklim, tetapi juga melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi melalui pemberdayaan yang inklusif, sekaligus memberikan manfaat bagi pelestarian keanekaragaman hayati.

“Pekerjaan hijau terbuka bagi siapa saja, dari berbagai latar belakang pendidikan. Yang kami cari bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga kemauan untuk terus belajar, kesiapan bekerja bersama masyarakat, serta kemampuan melihat persoalan lokal melalui perspektif global. Itulah fondasi solusi keberlanjutan yang benar-benar memberikan dampak nyata,” ujar Ajie.

Dari sudut pandang industri, Annie Wahyuni, Public Affairs and Sustainability Manager Danone, membahas kompetensi yang dibutuhkan perusahaan, tantangan dalam proses rekrutmen, serta peluang karier yang semakin terbuka di ekonomi hijau.

“Di Danone, kami memandang keberlanjutan sebagai bidang kerja yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, karena setiap keahlian memiliki peran dalam menjawab tantangan keberlanjutan,” ujarnya dalam diskusi. “Namun yang paling dibutuhkan industri adalah kompetensi yang relevan, sertifikasi, serta semangat untuk terus belajar, karena isu-isu keberlanjutan berkembang dengan sangat cepat.”

Selain diskusi panel, para peserta juga mengikuti sesi interaktif mengenai keterampilan hijau yang membahas kerangka kompetensi, jalur pengembangan karier, serta langkah-langkah praktis untuk memasuki pasar kerja yang dibentuk oleh transisi menuju emisi nol bersih. Forum ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Equatorise dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor untuk mendukung Peta Jalan Pengembangan Pekerjaan Hijau Indonesia (Indonesia’s Green Jobs Development Roadmap) sekaligus mempercepat pengembangan talenta yang dibutuhkan dalam ekonomi rendah karbon.

“Pada akhirnya, setiap pekerjaan akan menjadi pekerjaan hijau, karena setiap profesi memiliki tanggung jawab untuk mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam setiap keputusan dan pekerjaan yang dilakukan,” kata Christy Zakarias, Director and Head of Sustainability Transition Advisory di Equatorise. “Pekerjaan hijau tidak boleh dipandang sebagai ranah para spesialis semata. Pekerjaan hijau harus menjadi bagian dari setiap fungsi dalam sebuah perusahaan. Dengan cara itulah kita mulai memperhitungkan dampak lingkungan dan sosial yang selama ini sering terabaikan.”