Jakarta, 26 Juli – Dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia, Indonesia kembali menegaskan pentingnya melindungi dan memulihkan ekosistem mangrove sebagai aset strategis untuk mendukung aksi iklim dan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Sebagai negara dengan hutan mangrove terbesar di dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin ekonomi karbon biru (blue carbon) global sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat pesisir.
Indonesia memiliki hutan mangrove terluas di dunia dengan luas mencapai 3,44 juta hektare, atau sekitar seperlima dari total tutupan mangrove global. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memperkirakan sekitar 38% ekosistem tersebut saat ini mengalami degradasi, sehingga upaya restorasi menjadi prioritas lingkungan sekaligus peluang investasi jangka panjang. Mangrove merupakan salah satu penyerap karbon alami paling efektif di dunia, mampu menyimpan karbon jauh lebih besar dibandingkan hutan daratan, sekaligus melindungi garis pantai, menjaga keanekaragaman hayati, dan menopang mata pencaharian masyarakat pesisir.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP) dan Rubicon Carbon telah menandatangani Letter of Intent (LoI) untuk menjajaki pengembangan proyek karbon biru berintegritas tinggi di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa. Kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam memobilisasi keahlian sektor swasta internasional guna mendukung ambisi ekonomi biru Indonesia sekaligus memperkuat konservasi mangrove dan pembangunan pesisir yang berkelanjutan.
Kemitraan ini merupakan tindak lanjut dari peluncuran Indonesia’s Blue Carbon Ecosystems Roadmap and Action Guide oleh KKP pada COP30 di Belém, serta mencerminkan langkah pemerintah untuk secara resmi memasukkan sektor kelautan dan perikanan ke dalam agenda iklim nasional melalui dokumen Second Nationally Determined Contribution (NDC). Wilayah pesisir Jawa Tengah telah diidentifikasi oleh KKP sebagai salah satu kawasan paling siap untuk investasi karbon biru karena memiliki ekosistem mangrove yang luas, kebutuhan rehabilitasi yang tinggi, infrastruktur yang memadai, keterlibatan masyarakat pesisir dan pemerintah daerah, serta aktivitas industri dan migas yang menciptakan kebutuhan terhadap pengimbangan emisi karbon.
“Indonesia berkomitmen untuk mengoptimalkan potensi ekonomi karbon biru dengan tetap menempatkan masyarakat pesisir sebagai pusat dari setiap proses pembangunan,” ujar Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. “Melalui kolaborasi ini, kami menargetkan restorasi dan penguatan ekosistem mangrove di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa dengan potensi cakupan antara 50.000 hingga 70.000 hektare. Kami akan bekerja sama secara erat dengan masyarakat lokal untuk menghadirkan manfaat lingkungan sekaligus manfaat ekonomi yang berkelanjutan.”
Rubicon Carbon, penyedia solusi karbon terkemuka yang didukung oleh TPG Rise Climate, akan bekerja sama dengan KKP untuk mengeksplorasi peluang pengembangan proyek karbon biru berintegritas tinggi yang sesuai dengan praktik terbaik internasional. Kolaborasi ini menggabungkan kekayaan sumber daya alam Indonesia dengan keahlian Rubicon Carbon di bidang pasar karbon dan pembiayaan iklim untuk membangun proyek-proyek yang memberikan dampak jangka panjang bagi lingkungan maupun masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi komitmen kuat Indonesia dalam mengembangkan ekonomi birunya. Jawa Tengah memiliki kombinasi kesiapan kebijakan, skala ekosistem, dan keterlibatan masyarakat yang menjadi fondasi utama bagi pengembangan proyek karbon biru berintegritas tinggi. Kami bangga dapat membangun kemitraan ini bersama KKP,” ujar Flora Ji, Head of Asia sekaligus Head of Asset Management di Rubicon Carbon.
“Kami merasa beruntung dapat membangun hubungan yang erat dengan para pemimpin Indonesia, mulai dari diskusi bersama Presiden Prabowo dan Menteri Trenggono di Davos awal tahun ini hingga pertemuan dengan Pak Hashim di Jakarta. Seluruh percakapan tersebut menunjukkan betapa seriusnya pemerintah Indonesia dalam menjadikan ekonomi biru sebagai prioritas nasional,” kata Filipe Blackwood Oliveira, Chief Market Relations Officer Rubicon Carbon sekaligus Senior Advisor TPG Rise Climate. “Penandatanganan bersama KKP hari ini merupakan langkah nyata untuk mewujudkan ambisi tersebut. Kemitraan ini dirancang agar manfaat bagi masyarakat dapat diukur dan diwujudkan seiring dengan tercapainya target lingkungan. Proyek ini juga berpotensi meningkatkan kesejahteraan lebih dari 1,4 juta masyarakat yang tinggal di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa,” tambahnya.
Kemitraan ini difasilitasi oleh Equatorise, perusahaan konsultan strategis yang berfokus pada Indonesia dan berperan menghubungkan investor serta pelaku usaha internasional dengan peluang pemerintah maupun pasar di Indonesia. Equatorise mendukung proses kolaborasi antara KKP dan Rubicon Carbon, membantu membangun kemitraan strategis sekaligus memperkuat sinergi antara investor iklim global dan para pemangku kepentingan di Indonesia.
Steven Marcelino, CEO dan Managing Partner Equatorise, mengatakan, “Hari Mangrove Sedunia menjadi pengingat bahwa perlindungan mangrove bukan hanya merupakan kebutuhan lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi yang sangat besar bagi Indonesia. Dengan ekosistem mangrove terbesar di dunia, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis untuk memimpin ekonomi karbon biru global. Kami bangga dapat memfasilitasi kolaborasi ini dengan menghubungkan investor iklim internasional dengan prioritas pemerintah Indonesia, serta membangun kemitraan yang mampu memberikan nilai jangka panjang bagi lingkungan, masyarakat, dan perekonomian.”
Penandatanganan Letter of Intent ini mencerminkan komitmen bersama untuk mengeksplorasi peluang pengembangan proyek karbon biru berintegritas tinggi di Indonesia. Dengan mempertemukan kepemimpinan pemerintah, keahlian internasional di bidang iklim, dan keterlibatan masyarakat lokal, kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi biru Indonesia secara berkelanjutan sekaligus berkontribusi terhadap upaya global dalam mengatasi perubahan iklim.
“`